Connect with us

Tak Ada yang Salah dengan Kerja Keras, Kecuali Kamu Melakukannya dengan Berlebihan

Life

Tak Ada yang Salah dengan Kerja Keras, Kecuali Kamu Melakukannya dengan Berlebihan

Tak Ada yang Salah dengan Kerja Keras, Kecuali Kamu Melakukannya dengan Berlebihan

Kamu seorang workaholic?

Workaholic adalah istilah yang khusus disematkan untuk orang-orang yang gila bekerja. Kenapa  dikatakan gila? Mereka-mereka yang tergolong workaholic ini sangat menikmati waktu kerja mereka, melakukannya dengan tekun bahkan cenderung berambisi. Tak jarang mereka kerap melewatkan jam istirahat hanya untuk kerja, kerja, dan kerja.

Pencapaian dalam kerja bagi workaholic seolah jadi segalanya. Itulah mengapa mereka tidak mudah menyerah. Tapi, apakah hal ini layak untuk menepis kebutuhan dasar tubuh untuk beristirahat? Pada dasarnya, tubuh kita membutuhkan waktu 8 jam untuk istirahat, 8 jam untuk beraktivitas di luar kewajiban kerja, dan (normalnya) 8 jam sisanya untuk bekerja. Nah, kalau alokasi waktu kerjanya memakan alokasi waktu lain, baik itu untuk aktivitas luar kerja atau waktu istirahat, dampaknya apa saja sih?

Kelelahan bahkan Burnout

Burnout – Sumber: bluripples.com.au

Lohmereka kan melakukannya dengan senang hati. Masa sih sampai burnout?

Burnout adalah kondisi kelelahan kerja yang bukan hanya sebatas kelelahan fisik tetapi juga psikis. Burnout juga bisa terjadi ketika seseorang gagal mencapai ambisinya dalam bekerja karena ‘keterbatasan’ yang ia punya sehingga menimbulkan perasaan jatuh, kecewa berlebihan, dan sejenisnya.

Sekali pun seorang workaholic sudah ‘terbiasa’ untuk bekerja lebih lama dan lebih berat, sesungguhnya mereka juga berpotensi mengalami burnout meski baik dirinya atau orang lain tak menyadarinya secara kasat mata. Gejala-gejala yang muncul mulai dari kelelahan fisik, kehilangan motivasi kerja, perilaku menjadi lebih sinis, mudah emosi, sampai menimbulkan masalah interpersonal. Duh!

Tekanan

Stress – Sumber: mybodytutor.com

Jangan kira mereka yang workaholic benar-benar bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Jauh dalam lubuk hatinya, siapa yang tahu kalau ternyata mereka mengalami tekanan?

Jam kerja yang padat, agenda yang bejibun, kewajiban untuk menyelesaikan tugas, ditambah dengan tidak adanya waktu istirahat cukup, membuat para workaholic ini rentan mengalami tekanan atau stress. Bukan hanya tekanan fisik, ya. Mereka mungkin sebenarnya sedang menahan stres mental yang tidak bisa dikeluarkan karena terlalu fokus untuk bekerja atau karena tidak bisa mengutarakannya. Pada akhirnya, stres mental ini akan menjalar pada gangguan kesehatan fisik.

Perubahan Perilaku

Nggak Minat Makan – Sumber: thefederalist.com

Karena terlalu fokus untuk kerja terus, seseorang jadi kehilangan waktu untuk aktivitas lain di luar kerja. Padahal pada waktu-waktu tersebut mereka seharusnya bisa berkumpul dengan teman atau keluarga, mendampingi anak belajar, sekadar santai dengan pasangan, dan lain-lain. Yang dihadapi hanyalah pekerjaan dan tugas, deadline, rapat, dan hal-hal yang tidak jauh-jauh dari urusan kantor yang target.

Kebiasaan ini lama-lama akan memengaruhi perilaku seseorang yang workaholic. Mereka akan merasakan stres berlebih karena beban kerja yang relatif tinggi lantas mengalami perubahan perilaku. Misalkan seseorang menjadi kurang selera terhadap makan atau hanya terus-menerus menginginkan waktu istirahat – padahal sebelumnya tidak seperti itu – kemungkinan mengalami perubahan perilaku akibat kerja berlebih.

Coba lebih peka terhadap sekitar, adakah teman atau keluarga yang mengalami perubahan perilaku akibat menjadi workaholic?

Tidak Bahagia

Tidak Bahagia – Sumber: trulancer.com

Mari kita jujur kepada diri kita masing-masing, tak perlu dijawab secara lantang dan langsung: apakah dengan menjadi workaholic kita benar-benar bahagia? Kita tahu bahwa hidup kita bukan hanya soal pekerjaan. Masih ada hal-hal lain yang sebaiknya tidak dilupakan, misalkan keluarga, teman, dan rekreasi. Kita tahu juga bahwa pekerjaan itu tak akan ada habisnya. Sementara kita fokus untuk hal yang tidak pernah berujung, kita melewatkan momen dan peristiwa penting yang mungkin seharusnya kita saksikan. Anggap saja contohnya seperti masa tumbuh kembang buah hati atau menuanya orang tua kita.

Masihkah kita berpikir bahwa selamanya pekerjaan akan memberi kita (makna) kehidupan hanya karena kita mendapatkan pemasukan dari kewajiban itu?

Mahasiswi Ekonomi yang 'hobi' nulis. Punya ketertarikan jalan-jalan dan foto-foto. Sedikit gendut banyak bahagianya.

More in Life

To Top