Connect with us

Jangan Terlalu Mendewakan IPK. Kamu Bekerja Bukan Sekadar Karena Nilai.

Life

Jangan Terlalu Mendewakan IPK. Kamu Bekerja Bukan Sekadar Karena Nilai.

Jangan Terlalu Mendewakan IPK. Kamu Bekerja Bukan Sekadar Karena Nilai.

Kesempatan untuk mengenyam pendidikan di bangku kuliah memang tidak bisa didapat dengan mudah oleh semua orang. Bukan hanya persaingannya yang ketat lewat berbagai jalur tes, tetapi juga karena biayanya yang tidak sedikit.

Uang gedung, iuran sumbangan pendidikan, biaya praktikum, adalah hal-hal dasar yang harus dibayar demi mendapatkan ilmu di perguruan tinggi. Hal ini tentu harus disikapi dengan bijak oleh mahasiswa: karena tahu membayar uang kuliah begitu mahal, mahasiswa harus serius belajar dengan tekun. Hal ini berlaku terutama yang uang kuliahnya berasal dari beasiswa bapak dan ibu, lho.

Tapi, apakah tugas mahasiswa lantas hanya belajar? Betul ini tempat untuk menimba ilmu. Tidak salah kalau mahasiswa fokus untuk kegiatan akademik. Hanya saja, bukan berarti menjadi tidak ada kegiatan lain yang sama pentingnya dengan perkuliahan di kelas. Mendewakan IPK tinggi hanya akan menyelamatkanmu di seleksi administrasi. Setelah itu, apa yang kamu punya untuk ditawarkan pada calon tempat kerjamu?

Pengalaman: Kualifikasi Diri yang Menggiurkan Bagi Perusahaan

Banyak kegiatan buat latihan sibuk kerja – Sumber: joanlunden.com

“Selama kuliah, kegiatanmu apa saja?”

Salah satu pertanyaan yang akan keluar pada saat wawancara kerja untuk freshgraduate adalah pertanyaan semacam ini. Tim HRD perusahaan ingin tahu apa yang kamu lakukan selain kuliah. Apa kamu ikut organisasi internal kampus, rajin ikut pelayanan, atau punya pekerjaan sampingan yang satu bidang dengan pekerjaan yang kamu lamar.

Orang yang terbiasa memiliki pengalaman berorganisasi atau bekerja paruh waktu selama kuliah cenderung memiliki kemampuan kerja yang lebih baik. Hal-hal kecil seperti bagaimana membagi waktu atau cara komunikasi yang baik adalah kekuatan yang akan membantumu selama bekerja. Perusahaan akan menghargai usahamu ini.

Cerdas Dalam Bersosialisasi

Punya banyak teman, sering bersosialiasi – Sumber: playbuzz.com

IPK tinggi tak selamanya berbanding lurus dengan kemampuan bersosialisasi yang baik. Sepintar-pintarnya kamu di kampus, atau IPK-mu yang mungkin mendekati 4.0, bukan jaminan bahwa kamu akan mampu bersosialisasi dan menghadapi orang-orang di sekitar yang punya sejuta kepribadian.

Lah, aku kan kerjanya nanti individual banget. Nggak penting lah sosialisasi.

Eits! Siapa bilang? Apapun bidang pekerjaanmu nanti, toh kamu akan berhubungan dengan manusia juga, bukan hanya dengan alat, bukan hanya dengan barang. Meski komunikasi itu tak jadi hal utama yang akan kamu lakukan, tetapi cakap berkomunikasi dan bersosialiasi akan menyelamatkanmu dalam pekerjaan suatu saat nanti dan entah bagaimana skenario kehidupan itu.

Punya Kemampuan untuk Mengatur Emosi

Tidak ada orang yang mau bekerja dengan individu yang punya emosi meledak-ledak.

Kita mungkin punya pembelaan bahwa kita sedang dirundung masalah atau memang karena pekerjaan itu sendiri kita menjadi marah. Rasa emosi negatif yang kita tunjukkan ke orang lain ini adalah bom waktu bagi kita sendiri.

Tidak ada orang yang mau dimarahi. Kembali lagi kepada diri kita masing-masing, apakah enak bekerja sembari dimarahi, apalagi tahu kalau alasan kemarahannya bukan diri kita? Konsekuensi untuk menjadi dewasa terkadang memang menyebalkan: menyimpan sendiri perasaan negatif untuk memastikan hal-hal prioritas berjalan sesuai rencana.

Apakah ini bisa didapat dari sekadar pembelajaran di kelas? Apakah hal-hal seperti ini ada nilai yang bisa dikonversikan dalam transkrip kita? Kita rasa tidak, bukan?

Bertanggung Jawab dan Punya Komitmen

Komitmen untuk tim kerja – Sumber: blackenterprise.com

Kualifikasi wajib yang seharusnya kamu tawarkan untuk memastikan bahwa perusahaan akan menerimamu adalah menunjukkan kamu sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan punya komitmen. Kamu mungkin orang yang paling pintar dalam satu kampus, tapi kalau kamu tidak bertanggung jawab atas pekerjaanmu, buat apa?

Keterampilan semacam ini bukan hal-hal yang bisa kita dapatkan hanya dengan membaca buku. Kita dapat semua itu dari dinamika kuliah. Bagaimana kita mengatur diri untuk bisa mengerjakan semua tugas pribadi kita, bagaimana kita mengatur waktu untuk bisa komitmen menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, bagaimana kita harus mengalahkan hal-hal pribadi demi kepentingan kelompok.

Hal-hal semacam inilah yang menjadi penilaian tersendiri bagi HRD untuk memutuskan apakah mereka akan menerima kamu atau tidak. Kamu juga harus sadar ketika kamu melamar pekerjaan ini, kamu sebenarnya sedang memohon untuk diterima dalam satu tim kerja. Tidak ada perusahaan yang tidak menggunakan metode kerja tim. Kalau kamu tidak bisa menaklukkan dirimu agar fleksibel dan sekadar mengunggulkan IPK, kamu akan susah sendiri ketika bekerja.

Mahasiswi Ekonomi yang 'hobi' nulis. Punya ketertarikan jalan-jalan dan foto-foto. Sedikit gendut banyak bahagianya.

More in Life

Popular

To Top