Connect with us

Alasan untuk Membantumu Bergerak demi Skripsi

Life

Alasan untuk Membantumu Bergerak demi Skripsi

Alasan untuk Membantumu Bergerak demi Skripsi

Banyak yang beranggapan bahwa skripsi itu monster, tugas akhir yang menyiksa, tidak ada habisnya, atau mungkin penuh dengan drama.

Tidak sedikit pula yang akan mengaku pernah mendengar kalimat, “Kamu belum skripsi kalau belum sampai menangis!”

Lucu kalau tahu berbagai cara orang menakutimu menghadapi salah satu fase yang mau tidak mau harus dihadapi. Tidak habis pikir mengapa ada saja orang yang (berhasil) mendoktrinmu untuk kalah terhadap hal yang bahkan bukan sebuah benda hidup!

Bagi mahasiswa, skripsi adalah langkah akhir sebelum memulai perjalanan di hutan kehidupan yang sesungguhnya. Inilah bentuk pertanggungjawaban terhadap ilmu-ilmu yang sudah mereka dapatkan selama ini dalam bentuk penelitian. Meski terlihat sulit, kenyataannya kesulitan itu hanya manifestasi dari pikiran buruk yang menumpuk.

Tenang, yang melakukan skripsi bukan hanya kamu, kok. Jutaan mahasiswa lain juga menghadapi hal serupa. Toh, mereka pun juga akhirnya bisa lulus dan bekerja di tempat yang mereka mau. Jadi, apa alasanmu untuk takut dan tidak menyelesaikan “tahap final” studi wajibmu?

1. Sesulit-sulitnya skripsi (bagimu), jauh lebih sulit perjuangan Ayah dan Ibu menyekolahkanmu.

Orang tuamu tak pernah mengeluh karena tidak ingin kamu terbebani dengan kondisi mereka. – Sumber: maxmanroe.com

Saat ini, yang ada di pikiranmu adalah kamu menghadapi sesuatu yang tidak mungkin ditaklukan. Kamu merasa menjadi pihak yang paling harus dikasihani. Kenyataan pertama yang harus kamu tahu: orang lain tidak akan peduli secara tulus dengan keadaanmu. Kenyataan kedua yang mungkin lebih pahit untuk kamu tahu: orang tuamu menghadapi hal yang jauh lebih sulit demi membiayai studimu.

Mereka rela memasang badan bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi biaya sekolah dan biaya hidupmu. Tak jarang mereka memilih untuk tidak bersenang-senang selama kebutuhan studimu tercukupi. Belum lagi ketika kamu mengeluh lelah dan menginginkan sedikit hiburan yang sumber dananya masih dari orang tua.

Merasa masih pantaskah kamu bersungut-sungut?

2. Kehidupan kerja jauh lebih kejam. Kalau untuk skripsi saja kamu tidak bisa bertahan untuk menyelesaikan, apa nanti mau diinjak-injak oleh zaman?

Kalau tak belajar berjuang dari sekarang, yakin kuat untuk berjuang di masa depan? – Sumber: klikkabar.com

Skripsi bukan sekadar soal penelitian dan hasil akhir dalam bentuk laporan. Skripsi adalah dinamika! Kamu akan merasakan secuil sulitnya dunia kerja nanti hanya dengan merasakan proses pengerjaan dan penyelesaian skripsi. Ini adalah kesempatanmu belajar banyak hal, mulai dari komunikasi, bersabar, berjuang, sampai bangkit dari keterpurukan. Kalau dari kondisi replika ini saja kamu tidak tahan, hendak bagaimana kamu saat sudah menghadapi persaingan kerja?

Ingatlah bahwa setiap proses yang berhasil kamu lewati dalam skripsi, sama saja kamu sudah belajar menghadapi tantangan serupa yang lebih berat di masa mendatang. Jangan memanjakan diri untuk menjadi pribadi yang lemah dan butuh selalu dibantu.

3. Kelulusanmu ditentukan oleh kapan selesai skripsimu. Kalau temanmu sudah pada wisuda, yakin kamu masih mau menyandang status mahasiswa?

Motivasi dirimu seperti temanmu memotivasi diri mereka sendiri. Kamu harus kuat! – Sumber: bunow.com

Salah satu alasan mengapa beberapa mahasiswa tidak bersemangat menyelesaikan skripsinya adalah karena mereka merasa tidak memiliki teman seperjuangan. Tapi tunggu dulu, benarkah kamu tidak punya teman seperjuangan, atau kamu yang jangan-jangan memang kurang berjuang?

Saat ini kamu mungkin tidak ada minat untuk menyelesaikannya, meski hanya menulis satu halaman saja. Tetapi temanmu, dengan motivasi lain yang kuat, berusaha menyelesaikan skripsi mereka tepat waktu. Bagaimana bisa berhasil? Kuncinya adalah dengan mendisiplinkan diri.

Mendisiplinkan diri mungkin menjadi hal yang berat karena kamu sendiri yang punya kuasa atas dirimu. Kamu punya seribu satu alasan untuk memaafkan kemalasannmu dan memanjakan dirimu secara berlebihan sampai tidak jadi menyelesaikan tugas akhirmu. Pada akhirnya, kamu hanya bisa pasang muka ‘turut berbahagia’ untuk teman “seperjuanganmu” yang berhasil wisuda.

Continue Reading
You may also like...

Mahasiswi Ekonomi yang 'hobi' nulis. Punya ketertarikan jalan-jalan dan foto-foto. Sedikit gendut banyak bahagianya.

More in Life

Popular

To Top